Wayang Potehi, Ritual Doa Bagi Dewa dari Warga Tionghoa Surabaya

Wayang Potehi merupaka salah satu seni pertunjukan wayang dengan unsur budaya Tionghoa yang sangat kental dan biasa dimainkan di klenteng-klenteng. Namun, seiring perkembangan jaman, keberadaannya sudah mulai tergusur. Hanya ada beberapa klenteng saja yang hingga saat ini masih memainkannya. Salah satunya adalah klenteng Hok Tek Hian, yang terletak di Surabaya.

Klenteng Hok Tek Hian berlokasi di Jalan Dukuh, Surabaya. Di klenteng ini, Wayang Potehi dimainkan oleh Grup Lima Merpati sebanyak tiga kali sehari. Pertama pukul 09.00 – 11.00 WIB, kemudian pukul 13.00 – 15.00 WIB dan terakhir pukul 18.00 – 21.00 WIB. Hebatnya, meskipun tidak ada penonton, grup itu tetap memainknannya.

Wayang Potehi sendiri memainkan wayang dengan cerita legenda yang berasal budaya etnis Tionghoa. Misalnya cerita tentang Sie Djien Kwi atau kisah kepahlawan dari dinasti tertentu. Menurut Sukarmudjiono yang merupakan pelopor pertunjukan wayang ini, ada atau tidak ada penonton pertunjukan akan tetap digelar.

Hal ini mengingat jika gelaran Wayang Potehi sendiri sebenarnya dipersembahkan bagi para dewa atau sebagai perwujudan doa. Jadi bukan hanya sekadar pertunjukan seni atau budaya, apalagi merupakan tontonan belaka.

Wujud doa

Pertunjukan Wayang Potehi sejatinya merupakan wujud dari ritual doa ataupun persembahan yang dipanjatkan pada para dewa. Grup yang memainkan kesenian ini biasanya dipesan oleh seseorang, dengan harapan doa sang pemesan dapat dikabulkan. Pada sisi lain, apabila sudah dikabulkan, maka pertunjukkan Wayang Potehi digelar sebagai wujud rasa syukur atas rejeki yang dilimpahkan.

Wayang Potehi digelar dalam berbagai durasi. Dari yang durasi sejam, sehari penuh, bahkan hingga sebulan penuh. Hal ini tergantung dari pemesan yang berniat pertunjukan wayang ini digelar.

Selain durasi, juga bisa dipesan cerita khusus. Tetapi meskipun telah memesan, bukan berarti pemesan akan menikmati pertunjukan hingga selesai. Tak jarang mereka hanya memesan dan memberikan uang saja pada para pemainnya.

Jumlah pemesan cukup banyak, bahkan tidak jarang harus antre. Hal inilah yang kemudian membuat pertunjukan Wayang Potehi selalu digelar dan tidak pernah libur. Selain menjadi tradisi warga keturunan Tionghoa, keberadaan Wayang Potehi juga mendapat pengakuan dari Pemkot Surabaya. Tidak jarang pertunjukan Wayang Potehi digelar di acara-acara resmi atau menyambut tamu penting yang datang ke Surabaya.

Eksistensi Wayang Potehi pernah hilang karena dilarang pemerintah di masa Orde Baru. Hal inilah yang sedikit banyak membuat grup-grup Wayang Potehi mati, karena krunya terlanjur sibuk mencari pekerjaan lain. Namun, kembali diperbolehkan saat Abdurrahman Wahid alias Gus Dur menjabat sebagai Presiden.