Rumah Sembahyang Keluarga The Surabaya yang Penuh Nuansa Ekesotika Tinggi

Kota Surabaya memiliki suatu obyek wisata budaya sekaligus wisata rohani yang sangat unik bernama Rumah Sembahyang Keluarga Han atau sering juga disebut The Surabaya. Letaknya ada di Jl. Karet No. 62, Kalurahan Bongkaran, Kecamatan Pabean Cantikan, Kota Surabaya, Provinsi Jawa Timur.

Sejarah pendirian

Rumah Sembahyang Keluarga The Surabaya didirikan oleh Han Bwee Koo pada tahun 1876. Sosok ini adalah putra dari pasangan suami istri Han Siong Kong dan Tan Bie Nio. Keluarga tersebut merupakan imigran asal China dan saat datang ke Indonesia, menetap pertamakali di Lasem Jawa Tengah.

Tidak lama kemudian, saudara-saudara Han Siong Kong yang masih berada di Tiongkok ikut berimigrasi di Indonesia. Setelah itu mereka pindah ke Surabaya lalu mengembangkan bisnis dengan cara mendirikan pabrik gula dan kebun tebu. Selain itu mereka juga menjadi petugas pemungut pajak dan pedagang candu.

Han Bwee Koo sendiri adalah generasi ke 6 keluarga Han Siong Kong dan pernah diangkat sebagai Kapitein der Chineezen. Dengan jabatannya tersebut, Han Siong Kong punya tugas dari pemerintah kolonial Belanda untuk mengurus warga Tiongkok yang tinggal di Surabaya. Terutama yang berhubungan dengan masalah adat dan keagamaan.

Atas tugas serta peranannya tersebut, Han Bwee Koo mendirikan rumah sembahyang khusus bagi keturunan Han Siong Kong. Di masa sekarang rumah sembahyang tersebut masih sering digunakan untuk menjalankan prosesi ibadah.

Arsitektur bangunan

Selain dinamakan Rumah Sembahyang Keluarga Han atau The Surabaya, obyek wisata religi dan wisata sejarah ini juga dikenal dengan sebutan Han Sie Lok Hian Tjok Biau. Sedangkan pada dinding bangunannya, terpampang tulisan Rumah Abu Keluarga Han Bwee Koo.

Memasuki bangunan tersebut, wisatawan akan berhadapan dengan sebuah altar sembahyang yang berisi sinci atau papan arwah. Selain itu terdapat daftar silsilah para keturunan keluarga Han Siong Kong hingga generasi ketujuh.

Untuk bangunannya sendiri, memiliki ukuran 1.000 m2 dan menggunakan paduan arsitektur gaya Tiongkok dan Belanda atau Indiche Empire. Bangunan yang menghadap arah barat ini dilengkapi dengan tiang penyangga yang diimpor langsung dari Inggris. Sedangkan lantainya merupakan lantai marmer Italia.

Nuansa yang penuh eksotika tinggi khas Indische Empire akan terasa kuat ketika wisatawan melewati pintu masuk bangunan. Terasnya berukuran besar, dilengkapi dengan kolom-kolom yang ukurannya juga besar.

Aroma eksotika Indische Empire juga terasa di ruang utama yang dipakai untuk sembahyang. Ruang ini bersifat tertutup dan bagian depannya dihias dengan ornamen-ornamen tradisional Tiongkok dan Eropa. Meski tidak secara resmi dikelola sebagai obyek wisata sejarah maupun wisata religi, namun setiap hari banyak pelancong yang mendatangi tempat ini.