Menikmati Aneka Sajian Seni dan Budaya di Taman Budaya Jawa Timur Surabaya

Meski lebih dikenal sebagai kota modern dan metropolitan, ternyata Surabaya juga memiliki obyek wisata budaya yang tidak pernah kering dari kegiatan-kegiatan bernuansa seni. Obyek ini adalah Taman Budaya Jawa Timur Surabaya, namun lebih sering disebut sebagai Taman Budaya Cak Durasim.

Cak Durasim sendiri merupakan seorang seniman terkenal asal Jawa Timur sekaligus tokoh perjuangan di masa penjajahan Jepang. Dalam memperjuangkan kemerdekaan bagi negeri ini, Cak Durasim memakai siasat yang sangat unik. Dia menggunakan kesenian tradisional ludruk sebagai sarana untuk melancarkan propaganda menentang penjajahan.

Diresmikan pada 20 Mei 1978 bertepatan dengan hari Kebangkitan Nasional, Taman Budaya Jawa Timur Surabaya selalu rajin menyelenggarakan berbagai agenda dan pertunjukan seni. Khususnya kesenian tradisional dari kota Surabaya sendiri serta seluruh penjuru daerah yang ada di provinsi Jawa Timur.

Obyek wisata budaya ini terletak di Jl. Genteng Kali 85 Surabaya. Lokasinya sangat strategis dan bisa didatangi dengan kendaraan umum dari terminal Bungurasi, terminal Joyoboyo dan terminal Bratang. Kompleknya terdiri dari beberapa bagian dengan bentuk serta fungsi yang berbeda-beda.

Pendopo Jayengrono

Gedung pertama yang bisa dikunjungi traveler saat masuk ke komplek Taman Budaya Jawa Timur Surabaya adalah Pendopo Jayengrono. Sesuai dengan namanya, gedung ini berbentuk pendopo dengan atap berbentuk limasan. Di gedung ini sering digelar kegiatan-kegiatan seni dan budaya. Apabila tidak ada kegiatan biasanya digunakan puluhan anak kecil untuk berlatih menari.

Gedung Cak Durasim

Dari Pendopo Jayengrono, jika jalan kaki kearah timur traveler akan menjumpai Gedung Cak Durasim. Gedung yang menghadap kearah utara ini sering digunakan untuk menggelar acara pertunjukan teater atau kesenian tradisional lainnya. Dilengkapi tempat duduk yang nyaman, ruang teater ini dapat menampung sekitar 500 hingga 600 penonton.

Salah satu sisi menarik dari gedung ini adalah adanya patung Cak Durasim yang dibawahnya tertulis sebuah pesan dalam bahasa Jawa Timuran. Pesan ini selalu diucapkan Cak Durasim ketika sedang bermain ludruk dan mengandung sindiran keras kepada pemerintahan Jepang. Akibat sindiran itu, Cak Durasim menemui ajalnya pada 17 Agustus 1944 setelah mendapat siksaan dari tentara Jepang.

Aula Sawunggaling

Gedung berikutnya berupa aula yang disebut Aula Sawunggaling dan sering digunakan untuk mengadakan pameran seni dan perlombaan. Dibelakangnya terdapat panggung terbuka untuk menggelar kesenian outdoor dan latihan tari. Kemudian apabila traveler ingin melihat anak-anak berlatih gamelan, dapat masuk ke ruang Sawungsari.

Secara menyeluruh Taman Budaya Jawa Timur Surabaya memiliki daya tarik tersendiri. Bagi traveler yang ingin menikmati suasana khas Surabaya dan Jawa Timur dalam bentuk aslinya, obyek wisata budaya ini adalah tempatnya.