Menelusuri Sejarah Perbankan Indonesia di Museum Bank Indonesia Surabaya

Nama resminya adalah Museum Bank Indonesia. Namun banyak traveler yang menyebutnya Gedung De Javasche Bank. Destinasi wisata sejarah ini terletak di Jl. Garuda No. 1 Surabaya Provinsi Jawa Timur. Lokasinya sangat dekat dengan Jembatan Merah dan dapat diakses dari  terminal OSO atau terminal Bungurasih dengan bus umum jurusan Jembatan Merah Plaza.

Sejarah pendirian dan peralihan fungsi

Pada 24 Januari 1828 pemerintah kolonial Belanda mendirikan De Javasche Bank di Batavia. Selanjutnya pada 14 September 1829 lembaga perbankan ini membuka cabang di Surabaya dan menempati gedung yang saat ini digunakan sebagai Museum Perbankan Indonesia.

Gedung tersebut dirobohkan pada tahun 1904 dan dipugar total diatas areal seluas 1000 m2, menggunakan gaya arsitektur neo renaissance empire dengan atap berdesain mansart. Namun untuk pilar-pilarnya dihias dengan ormanen bergaya Hindu-Jawa.

Saat pecah perang dunia II, De Javasche Bank sempat dikuasai pemerintah Jepang pada 1942 dan berhasil dikuasai lagi oleh Belanda pada bulan April 1946. Kemudian setelah Indonesia mendapatkan kedaulatan penuh sebagai negara merdeka, pada 1 Juli 1953 De Javasche Bank dirubah namanya menjadi Bank Indonesia.

Terakhir sejak tahun 2012 Gedung Bank Indonesia atau De Javasche Bank mengalami perubahan fungsi dan dijadikan sebagai museum perbankan nasional. Selain itu tidak jarang pula dipakai sebagai ruang kegiatan pendidikan, seni dan budaya.

Koleksi

Museum Bank Indonesia Surabaya atau Gedung De Javasche Bank terdiri dari tiga lantai dan lantai paling bawahnya berupa basement atau lantai bawah tanah. Di lantai yang terbagi jadi tiga ruangan inilah traveler bisa menyaksikan berbagai macam koleksi perbankan masa lalu.

Di ruang pertama, traveler bisa menyaksikan koleksi-koleksi uang pada zaman kerajaan yang masih berbentuk logam dan bolong dibagian tengahnya. Selain itu ada pula koleksi ORI atau Oeang Republik Indonesia yang dipakai sebagai alat pembayaran di era awal kemerdekaan.

Masuk ruang kedua, koleksinya berupa material-material yang dulu pernah digunakan untuk membangun Gedung De Javasche Bank seperti ubin kuno, genteng dan sebagainya. Di ruang ini juga dapat disaksikan beberapa replika logam mulia emas dalam bentuk batangan.

Lanjut ke ruang ketiga, koleksi yang dapat disaksikan traveler antara lain mesin-mesin cetak uang dan mesin penghancur uang lawas. Sedangkan di bagian depan dekat meja repsesionis, terpajang koleksi foto-foto lama dengan obyek rumah dinas para pegawai De Javasche Bank dan tempat-tempat strategis lainnya di Surabaya.

Tidak perlu bayar tiket untuk masuk ke Museum Bank Indonesia atau Gedung De Javasche Bank. Sebagai obyek wisata sejarah dan pendidikan, destinasi ini sangat pas dikunjungi oleh traveler yang tertarik dengan perjalanan sejarah Bangsa Indonesia terutama yang berkaitan dengan dunia perbankan.